Novel Terjemahan

MENGENANG SANG LEGENDA ANDERSON “THE SPIDER” SILVA

Anderson da Silva adalah seorang seniman bela diri campuran Brasil-Amerika. Dia adalah mantan Juara Kelas Menengah UFC dan memegang rekor mempertahabkan gelar terlama dalam sejarah UFC pada 2.457 hari. Ini dimulai pada tahun 2006 dan berakhir pada tahun 2013 dan termasuk rekor UFC 16 kemenangan berturut-turut dalam rentang waktu itu. Presiden UFC Dana White, komentator UFC Joe Rogan dan sejumlah pakar seni bela diri campuran (MMA) menyebut Silva sebagai salah satu seniman bela diri campuran terbesar sepanjang masa.

Dalam 16 pertandingan, petarung MMA asal Brasil itu berhasil menang berturut-turut. Rekor yang sempat membuatnya jadi manusia paling ditakuti lawan-lawannya di Octagon. Selama 16 pertarungan berturut-turut, Anderson Silva tidak terkalahkan di atas ring Octagon. Atlet tarung bebas asal Brasil ini menjadi sosok yang paling ditakuti di UFC, menghabisi lawan-lawannya seakan tanpa perlu kerja keras. Namun sama seperti semua hal di dunia ini, rekor kemenangan Silva tidak bisa bertahan selamanya. 

Di dalam olahraga, merindukan kemenangan dan kejayaan untuk datang lagi bahkan lebih sulit unutuk kembali diwujudkan. Begitu mulai kalah, kebanyakan karir kalian akan terus memburuk. Misalnya Arsenal yang sesungguhnya tidak pernah pulih paska kekalahan yang mengakhiri rekor kemenangan 49 kali berturut-turut. Penampilan Mike Tyson dan Prince Naseem Hamed terus memburuk setelah mereka kehilangan “mojo”nya. Rafael Nadal juga tidak pernah kembali mendapatkan julukan King of Clay setelah rentetan kemenangannya sebanyak 81 kali akhirnya berakhir.

Kadang ini sifatnya psikologis: semacam aura ketangguhan yang sudah hilang, musuh mulai melihat kelemahan anda dan anda sadar anda tidak lagi tidak terkalahkan. Bisa juga ini terjadi karena faktor alami: anda bertambah tua, kemampuan memudar, kecepatan berkurang sementara banyak kompetitor muda yang segar. Namun apapun yang terjadi nantinya, masa-masa kemenangan ini akan selalu dikenang. Mereka yang memecahkan rekor akan selalu dikenang sebagai legenda.

Dalam kasus Anderson Silva, rentetan kemenangannya sebanyak 16 kali di UFC telah menjadi puncak karirnya. Ini merupakan era keemasan sang atlit Brasil tersebut. Setiap pertandingan dia selalu di atas angin dan dia dianggap sebagai atlit tarung bebas terbaik sepanjang masa. Namun sama seperti semua hal, rentetan kemenangan ini berakhir—dan ti dak banyak yang percaya bahwa momen spesial seperti ini akan kembali terulang.

Terbang Tinggi Berkat Tendangan Lutut

Silva awalnya tidak langsung menekuni MMA. Dia tumbuh di tengah kemiskinan di kota Curitiba, Brasil dan pertama kali mengenal seni bela diri ketika dia belajar Jujitsu Brasil dari anak-anak lain yang lebih mempunyai uang untuk mengambil kursus. Akhirnya, orang tua Silva berhasil menabung cukup uang untuk membiayainya belajar Taekwondo. Sama seperti Jujitsu, dia berhasil meraih sabuk hitam di kedua nomer tersebut. Dia juga akhirnya meraih sabuk hitam di Judo dan sabuk kuning di Capoeira sebelum akhirnya menjadi petinju dan atlit Muay Thai yang luar biasa.

Bahkan sebelum akronim MMA muncul, Anderson Silva sudah menghidupi jenis bela diri ini, terbukti dari campuran eklektik gaya bela dirinya yang berisikan tinju dan seni gulat, memberikan dirinya kemampuan dasar sebelum akhirnya menjadi salah satu petarung terbaik di muka bumi.

Sebelum UFC berkembang menjadi MMA yang penuh glamor, ada beberapa turnamen kelas bawah yang menjadi ajang unjuk kebolehan bagi para petarung. Silva mengambil jalur ini, bertarung di kelas welter di Jepang (Pride) dan Inggris (Cage Rage). Biarpun belum sepenuhnya menunjukkan kehebatannya di turnamen-turnamen ini seperti nantinya di UFC, Silva sempat memamerkan momen-momen hebat nan jenius, ditandai dengan tendangan lututnya yang meng-KO-kan atlit ternama Carlos Newton di Pride 25.

Barulah di 2006 Silva mulai terdaftar di UFC sebagai kelas ringan utama dan disitulah kemampuan bertarungnya—dan rentetan kemenangannya—menjadi legenda. Dia berhasil meraih kemenangan di 16 pertandingan berturut-turut dan mempertahankan gelar kelas ringan utama 10 kali. Periode kemenangan ini bertahan selama 2.457 hari, dan mengingat sifat pertandingan MMA yang sulit ditebak, rekor ini sangatlah luar biasa.

Momen Penting: Silva Vs Forest Griffin

SI LEMAH TERKUAT

Mungkin banyak orang yang tidak sependapat dan tidak senang dengan judul di atas. Tapi Inilah kata yang saya rasa paling tepat untuk menggabarkan orang ini. Silva adalah petaruang paling all round di mma. Tapi sayangnya dia tak punya power dan ketahanan fisik seperti moster moster di kelas midelwighat dan lightheavywight yang di ikutinya.

Dua hal yang terbaik yang dimiliki silva dibandingkan competitor lain di kelasnya adalah kecepatan dan ketepatan. Ini adalah kekuatan dan sekaligus kelemahannya. Kelihaian silva dalam mengatur jarak dan kelincahanya membuatnya mampu bertahan di kelas berat ringan yang penuh monster dengan power dan ketahan fisik luar biasa.

Di bawah pelatihan gym Black House, dia menguasai gaya bertarung penuh serangan balik yang agresif, menggabungkan pergerakan kepala ala boxing, keluwesan tubuh Capoeira, tendangan Taekwondo dan serangan lutut Muay Thai yang mematikan. Bayangkan semua itu dikombinasikan dengan pukulan yang akurat, kemampuan untuk merubah pose antara gaya ortodoks dan southpaw, keahlian dalam bertarung rendah dan mengunci lawan. Silva adalah petarung gaya bebas yang hampir sempurna.

Ada contoh kegeniusan Silva di setiap pertarungan yang dia lakukan. Dia pernah menghajar habis Stephan Bonnar yang belum pernah kalah KO sepanjang karirnya. Stephan adalah petarung yang mampu menggunakan ruang octagon dengan baik.

Menyadari hal ini Silva memancing petarung asal Indiana tersebut untuk menyerang selagi dia menyender di pinggir ring Octagon, kumudia dia melangkah ke samping dan menghantam Stephan dengan tendangan berputar. Setelah itu Silva menghujami Stephan dengan tendangan lutut, seakan-akan dia sedang bermain-main.

Satu menit setelah pertandingan debutnya di kelas menengah melawan James Irvin yang bertubuh lebih besar, Silva berhasil menangkap tendangan ke arah paha dari lawannya, lantas menonjok muka lawan sambil terus merangkul kaki musuh. Irvin jatuh ke dalam posisi pertahanan terbuka, memberikan kesempatan bagi Silva untuk masuk dan menghajarnya sampai habis.

Ketika Silva menghadapi rekan senegara dan sesama petarung Black House, Vitor Belfort di UFC 126—dalam perebutan gelar juara light-heavyweight—dia menghabisi lawannya dalam ronde pertama dengan sebuah tendangan yang mendarat di muka. Tanpa peringatan dan waktu bagi Belfort untuk bereaksi, gerakan Silva yang tenang dan mulus berhasil mendaratkan ujung kakinya di dagu Vitor.

Semua pertandingan ini—dan semua kemenangannya di periode itu—merupakan contoh dari kegeniusan silva mengatur tempo dan ketepatan serangan, bentuk dari pergerakan yang artistik, menandingi estetika kecantikan manapun—biarpun dipenuhi oleh darah, tato dan suara Joe Rogan berteriak-teriak.

Di kaki, tidak ada yang lebih mematikan dari Silva dalam sejarah UFC. Statistik mengklaim bahwa Silva hampir tidak tersentuh. Di luar rekor KO-NYA, Silva juga menjadi striker paling akurat yang pernah mencetak 67,8 persen dari serangan signifikannya. Dia tidak pernah mendapatkan akurasi kurang dari 50 persen dalam salah satu dari 16 pertarungannya di UFC, dan dia juga memiliki 17 knockdown (ya, rekor UFC lainnya.

Biarpun ada banyak pertandingan lain yang menampilkan beragam serangan Silva, pertarungannya dengan Forest Griffin—musuh terberat yang yang juga mantan juara light-heavyweight—dipenuhi dengan keahlian yang akan membuat anda menganga.

 

Di pertandingan ini, anda akan melihat tiga menit aksi MMA yang luar biasa. Griffin dikenal sebagai spesialis penendang yang tahan banting, namun tetap saja dia dimainkan oleh Silva dari awal. Biarpun lebih besar dan kuat, setiap serangan Griffin terlihat bodoh akibat gerakan Silva yang cekatan. Dalam tiga menit tersebut, tidak ada satupun pukulan Griffin yang masuk dan dia dihajar jatuh Silva tiga kali. Yang terakhir, Silva dengan santai menghindari pukulan Griffin sebelum mendaratkan pukulan jab santai yang membuat pria seberat 92 kg jatuh roboh.

 

Yang membuat pukulan ini begitu indah—dan alasan kenapa pukulan ini luar biasa namun juga aneh untuk ditonton—sama seperti momen-momen jenius di olahraga, sulit untuk tahu apakah Silva melakukannya dengan sengaja atau tidak. Apakah Silva sadar bahwa Griffin menggunakan seluruh berat badan ke dalam pukulannya, sehingga Silva bisa menggunakan semua beban itu dan membuat pukulan jabnya efektif?

 

Rasanya sulit untuk mempercayai bahwa ada yang bisa menyadari hal semacam itu di tengah panasnya pertandingan, tapi kalau ada petarung yang bisa melakukan itu, Silvalah orangnya. Pukulan itu sangat akurat dan terlihat tidak membutuhkan banyak usaha sama sekali, namun berhasil menghabisi lawan dengan satu gerakan saja. Peristiwa tersebut dinobatkan sebagai salah satu pukulan paling impresif tidak hanya dalam karir Anderson Silva, tapi juga dalam sejarah UFC.

 

“aku mencoba memukulnya dan dia benar-benar hanya menggeser kepalanya dan melihatku seperti badut bodoh.” Ungkap griffin saat disebuah interview radio. “dia melihatku seolah mengatakan, ‘kenapa kamu melakukan hal konyol ini?’… lalu dia memukulku… rasanya seperti seorang anak kecil mencoba bergulat dengan ayahnya.”

Kalah dengan senjatanya sendiri

Namun waktu—sama seperti gravitas, cinta dan alkohol—lambat laun akan mengkhianati kita. Anderson Silva pun tidak lolos dari hal ini. Entah karena refleksnya yang melambat seiring dia menua, atau dia terlalu nyaman menjadi yang terhebat, atau mungkin sifat olahraga yang volatil, kompetitif dan kejam akhirnya menggigit balik rentetan kemenangannya berakhir secara meyakinkan. Dia mengalami kekalahan telak terhadap Chris Weidman—biarpun Weidman bukan orang pertama yang berhasil membuat Silva terlihat rentan.

Di UFC 117, Chael Sonnen berhasil mendaratkan lebih banyak pukulan di Silva dari siapapun dalam satu pertandingan. Silva akhirnya berhasil menang lewat kuncian segitiga di menit-menit terakhir. Biarpun menang hari itu, kini muncul skema untuk mengalahkan Silva. Weidman menggunakan formula ini—tidak menerjang dan tidak memberikan Silva ruang sama sekali. Silva mencoba trik pergerakan kepalanya yang khas, namun pukulan-pukulan Weidman berhasil mendarat mulus dan akhirnya dia berhasil menghantam habis Silva.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, Dua hal menonjol yang dimiliki silva adalah kecepatan dan ketepatan. Ini adalah kekuatan dan sekaligus kelemahannya. Chris Weidman adalah orang pertema yang berhasil menggunakan ini untuk mengalahkan silva dan menariknya turun dari kursi raja middelwight.

Di UFC 117, Chael Sonnen berhasil menunjukkan kepada dunia bahwan silva tidak semenyeramkan yang semua orang banyangkan. Rahasai kehebatan silva adalah kecepatan dan ketepatannya. Silva mampu menggendalikan ritme pertandingan dan membuat lawannya secara tidak sadar bertarung dalam ritme yang paling nyaman untuknya. Setelah lawanya masuk kedalam ritemenya silva kemudian akan dapat dengan mudah mengalahkan lawan-lawanya karna presepsi mereka menjadi buyar saat menyerang. Julukannya “the spider” dengan jelas menggambarkan ini.

UFC 162 membawa kejutan terbesar dalam sejarah UFC. Chris Weidman yang waktu relatif tidak berpengalaman berhasil mengalahkan Anderson Silva menggunakan senjatanya sendiri. Sayangnya, Banyak penggemar dan jurnalis mengklaim KO-nya lebih merupakan kasus Silva kalah dalam pertarungan melawan dirinya sendiri daripada dari Weidman.

Di babak kedua, Silva yang melakukan taktik yang biasa dan menunggu Weidman mengulur-ulur waktu. Weidman melakukan pekerjaan luar biasa dengan terus bergerak ke dalam jangkauan pukulan yang baik daripada menerjang umpan Anderson. Di MMA, ini [berguling dengan serangan] seharusnya lebih mudah daripada di tinju karena hampir semua petarung MMA menyerang dengan cara bergantian tangan — kiri-kanan-kiri atau sebaliknya.

Semua yang perlu dilakukan Weidman adalah tetap dalam jangkauanetiap saat sambil membuat Silva menghindari setiap pukulannya dan terbiasa dengan tempo Weidman. Kemudian Weidman melemparkan short right hand kedua, Anderson menarik kembali kepalanya seperti yang biasa dia lakukan untuk menghindari hook kiri, meninggalkannya tanpa tujuan, membungkuk ke belakang dan tidak bisa menggerakkan kakinya saat hook kiri Weidman masuk.

Banyak orang yang tidak mengerti pentingnya powerless backhand tengah kombinasi. Seringkali dalam olahraga beladiri, pukulan kecillah yang lebih penting daripada pukulan utama. Seandainya Weidman tidak membuat Silva menarik kepalanya ke belakang dengan tangan kanan kedua yang ceroboh, hook kiri akan meleset satu atau dua inci, dan kita semua masih akan membicarakan refleks Silva.

Kebetulan, percoabaab pertama Weidman itu berhasil. Seandainya pertarungan berlanjut, saya yakin Weidman akan terus berusaha dan berpura-pura Silva agar terlalu memaksakan diri ke belakang.

Kekalahan inilah yang akhirnya menandai berahirnya Era keemasannya. Sonnen dan kemudian Weidman, menunjukkan dunia cara untuk mengalahkan Silva. Dia bukan tidak terkalahkan, dia petarung dengan kelemahan, sama seperti yang lainnya. Semenjak itu karir Silva tidak pernah mencapai kesuksesan yang sama. Ini diperburuk kakinya yang patah dalam pertandingan ulang melawan Weidman, sebuah cedera yang diduga banyak orang akan mengakhiri karirnya.

Memang karirnya belum berakhir disitu, tapi mungkin seharusnya dia pensiun di saat itu. Dia sempat kembali ke atas ring, tapi ditemukan positif menggunakan stereoid anabolik setelah kemenangan comeback pertamanya melawan Nick Diaz di UFC 182. Silva yang berumur 40 saat itu melakukan pembelaan diri yang lemah: bahwa dia positif akibat mengkonsumsi obat kuat yang diberikan temannya.

Semenjak itu, Silva kalah di dua dari tiga pertandingan selanjutnya. Dan satu kemenangan itu pun terbilang kontroversial. Karirnya terus menukik ke bawah dan kasus positif stereoid itu telah menodai nama baiknya. Ini merupakan aib bukan hanya bagi Silva, tapi juga bagi MMA dan UFC.

Banyak yang meyakini bahwa status Silva sebagai petarung terbaik sepanjang masa tetap sah, penggunaan stereoid pun tidak akan berpengaruh terhadap elemen-elemen yang membuatnya menjadi petarung luar biasa di era keemasannya: kecepatan, pergerakan dan ketepatan. Penggemar Silva akan berargumen bahwa dia hanya mulai menggunakan stereoid agar pulih dari cederanya yang parah. Namun apapun kebenarannya, rekor kemenangan berturut-turut Silva adalah sesuatu yang tidak bisa dibantah.

PENUTUP

Banyak fans memiliki gagasan untuk menobatan salah satu petarung sebagai yang terhebat sepanjang masa akan selalu mendapat kritik karena, pada akhirnya, itu adalah argumen subjektif. Tidak ada jawaban benar atau salah yang jelas karena setiap orang berhak atas pendapatnya sendiri.

Presiden UFC Dana White merasa sulit untuk percaya akan ada petarung lain yang semengagumkan silva, tetapi sekali lagi, dia hanya satu orang.

“To deny Anderson Silva is the best fighter in the world, and probably the best ever is tough to do right now,” White stated (via MMAWeekly.com)

Namun, hanya berdasarkan fakta, data tampaknya Anderson Silva telah mempertaruhkan klaimnya atas takhta… dan layak menjadi legenda di MMA setidaknya untuk saat ini.

Ref: 

  1. http://ufcstats.com/statistics/events/completed
  2. https://bleacherreport.com
  3. https://en.wikipedia.org/wiki/Anderson_Silva
×